Seni Pura-Pura Sibuk Saat Bos Lewat, dan Kenapa Sebaiknya Berhenti

Ada gerakan refleks yang dikuasai hampir semua pekerja kantoran: begitu bos mendekat, jari tiba-tiba mengetik lebih cepat, alis mengernyit penuh dedikasi, dan layar berpindah ke dokumen yang kelihatan penting. Kami menghormati keterampilan ini. Kami juga ingin dengan hormat memintanya pensiun.
Kenapa kita melakukannya
Pura-pura sibuk lahir dari rasa takut yang masuk akal: kalau terlihat santai, berarti terlihat tidak berguna. Di banyak kantor, kesibukan dihargai lebih tinggi daripada hasil. Maka orang belajar memproduksi tampilan kesibukan, bukan kesibukan itu sendiri.
Masalahnya
Tampilan sibuk memakan energi yang sama besarnya dengan kerja sungguhan, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Lebih buruk lagi, ia menular. Satu orang mulai pura-pura, yang lain merasa harus ikut, dan tiba-tiba seluruh tim menghabiskan tenaga untuk sebuah pertunjukan yang tidak ada yang menikmatinya.
Di data kami yang sepenuhnya fiktif, tim yang sering pura-pura sibuk justru punya indeks baper lebih tinggi. Masuk akal: melelahkan sekali berakting sepanjang hari.
Apa yang bisa menggantikannya
Kalau Anda sedang menunggu input dari orang lain, katakan saja. “Aku lagi nunggu data dari tim finance, sambil nunggu aku rapiin dokumen lama” jauh lebih kuat daripada mengetik acak agar terlihat produktif.
Budaya yang sehat bukan budaya yang selalu terlihat sibuk, melainkan budaya yang tidak perlu berpura-pura. Membangunnya butuh waktu, dan sedikit keberanian dari atasan untuk tidak menilai orang dari seberapa cepat jarinya mengetik saat ia lewat.
Sampai budaya itu terbentuk, setidaknya berhentilah memindahkan jendela setiap kali ada yang mendekat. Tim Anda tahu. Mereka selalu tahu.
Tertarik dengan BaperHR?
Jadwalkan demo gratis bersama tim sales kami. Responsif, ramah, dan selalu siap membalas.